Site Loader

Sudah pernah jalan-jalan ke Kuala Lumpur? Ibukota negara tetangga Malaysia yang jaraknya hanya 2 jam dengan pesawat terbang ini menjadi salah satu pilihan tujuan wisata luar negeri terdekat yang relatif murah dan mudah bagi wisatawan Indonesia, selain Singapura dan Bangkok di Thailand. Kali ini saya mau berbagi cerita pengalaman saya mengunjungi Kuala Lumpur untuk pertama kalinya dan melakukan self-guided tour di area Old City Centre atau Kota Tua.

Sebenarnya pada waktu itu tujuan saya ke Kuala Lumpur bukan untuk jalan-jalan, melainkan menemani ayah saya untuk urusan kesehatan di daerah Selangor, yang lokasinya kalau dianalogikan di Indonesia mirip seperti Tangerang Selatan dengan Jakarta. Nah, di sela-sela waktu sambil menunggu proses pengobatan, kami killing time dengan cara mengunjungi pusat kota Kuala Lumpur. Berbekal googling dan artikel di wikitravel mengenai Kuala Lumpur, saya mencari sendiri lokasi-lokasi di Kuala Lumpur yang bisa dikunjungi dengan berjalan kaki dan membuat rute menarik yang mungkin bisa juga menjadi inspirasi teman-teman.

Sisi Kota Tua Kuala Lumpur
(Source: media.timeout.com)

Kuala Lumpur memiliki dua lokasi yang bisa disebut sebagai pusat kota (city centre), yaitu Kuala Lumpur City Centre (KLCC) – yang merupakan Central Business District dengan kesan yang lebih modern – dan Old City Centre/Old Town atau Kota Tua. Old City Centre sendiri dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu Distrik Kolonial dan Chinatown. Kami sempat mengunjungi keduanya, namun kali ini saya akan lebih fokus mengupas seluk beluk Old City Centre yang lebih punya banyak pilihan situs historis dan tradisional yang tentunya sangat menarik untuk dijelajahi.

Perjalanan kami dimulai kira-kira setelah jam makan siang. Dari Selangor, kami berangkat menuju Kuala Lumpur dengan menggunakan taksi online. Jarak dari tempat kami menginap menuju area Old City Centre Kuala Lumpur cukup jauh – kira-kira 45 menit perjalanan menggunakan mobil melalui jalan tol di luar jam sibuk. Kami memutuskan untuk berhenti di area Chinatown, tepatnya di Petaling Street.

Pintu Selatan Petaling Street

Petaling Street yang merupakan jantung dari Chinatown di Kuala Lumpur. Jalan yang memanjang sekitar 300 meter ini terkenal dengan variasi barang yang dijual oleh pedagang setempat, mulai dari CD/DVD bajakan, buku bajakan, serta berbagai macam jenis pakaian, tas, aksesoris, serta mainan anak-anak.

Suasana Petaling Street (Source: Shutterstock)

Selain untuk berbelanja, Petaling Street juga menyediakan banyak sekali pilihan jajanan pasar dan makanan khas Kuala Lumpur, seperti mie Hokkien, ikan bakar, laksa dan mie kari. Pedagang di sekitar Chinatown tidak hanya orang-orang Chinese saja tetapi juga ada orang India, Melayu, serta Bangladesh.

Selain Petaling Street, juga terdapat Jalan Tun H.S. Lee yang juga merupakan dari Chinatown Kuala Lumpur. Jalan ini juga dikenal sebagai High Street karena sesuai dengan namanya, area di jalan ini lebih tinggi dibandingkan sisi Chinatown lainnya sehingga area ini tidak rentan banjir.

Pintu Masuk Sri Mahamariamman Temple
(Source: wikimedia.org)

Sambil melihat Google Map, kami tertarik untuk mengunjungi Sri Mahamariamman Temple yang terletak High Street ini. Kuil ini merupakan kuil Hindu tertua yang masih berfungsi di Malaysia, sejak dibangun pada tahun 1873 oleh K. Thamboosamy Pillai. Awalnya, kuil ini hanya digunakan oleh keluarga Pillai hingga pada tahun 1920an dimana kuil ini dibuka untuk umum dan menjadi tempat ibadat utama bagi para imigran beragama Hindu.

Kuil Sri Mahamariamman sangat mudah dikenali oleh gopuram atau menara yang berbentuk piramid setinggi 22.9 meter yang menjadi pintu masuk kuil ini. Untuk masuk ke dalam kuil ini tidak dikenakan biaya, namun pengunjung tidak boleh mengenakan alas kaki di dalam area kuil. Pengunjung bisa menitipkan sepatu atau sendalnya di tempat penitipan dengan memberikan sedikit tip kepada petugas.

Close-up Gopuram Sri Mahamariamman

Sambil menelusuri High Street menuju arah utara, kami juga mengunjungi Sze Ya Temple yang merupakan tempat suci bagi agama Taoisme. Lokasi kuil ini agak tersembunyi di sisi barat High Street yang terpotong Jalan Tun Tan Cheng Lock dan Jalan Lebuh Pudu. Ini karena posisi dan desain kuil ini dibuat sedemikian rupa untuk memenuhi Feng Shui yang menampilkan keunikan tersendiri secara lokasi serta arsitekturnya. Kuil yang dibangun pada tahun 1864 ini merupakan kuil Taoisme tertua di Kuala Lumpur.

Interior Sze Ya Temple (Source: nashaplaneta.net)

Nah, tempat terbaik untuk dikunjungi bagi yang suka berbelanja adalah Central Market, yang lokasinya tidak lebih dari 50 meter dari kuil Sze Ya. Pasar ini merupakan salah satu destinasi yang paling sering dikunjungi di Kuala Lumpur. Kita bisa menemukan berbagai macam hal di dalamnya, termasuk cinderamata dan kerajinan tangan yang berasal dari berbagai macam budaya – representasi lingkungan multikultural dan multietnis yang sangat ketara di Malaysia, khususnya di Kuala Lumpur.

Central Market (Source: asiawebdirect.com)

Dibangun pada tahun 1888, pasar ini awalnya merupakan wet market yang menjual daging segar dan bahan makanan secara terbuka. Lalu pasar ini direvitalisasi dengan bangunan gaya arsitektur Art Deco pada tahun 1937 dan terdaftar sebagai situs warisan budaya di Malaysia.

Masjid Jamek dari sisi barat Sungai Klang

Dari Central Market, kami melanjutkan ke jalan Leboh Pasar Besar, tepatnya di jembatan yang memotong sungai Klang. Dari jembatan tersebut, kami cukup terkejut dengan pemandangan indah yang ditampilkan oleh Masjid Jamek. Masjid ini berada tepat di ujung di pertemuan antara sungai Klang dan sungai Gombak, diapit oleh gedung-gedung tinggi di sekitarnya, menampilkan suasana yang asri dan indah di area Old City Centre Kuala Lumpur ini. Menariknya, masjid ini dibangun oleh seorang tentara/arsitek Inggris, A. B. Hubback, pada tahun 1909.

Setelah mengambil foto dan menikmati pemandangan Masjid Jamek, kami berjalan lagi menelusuri jalan Leboh Pasar Besar menuju Jalan Raja, yang merupakan alun-alun utama kota Kuala Lumpur. Alun-alun yang dinamakan Dataran Merdeka atau Merdeka Square ini dikelilingi oleh gedung-gedung bersejarah. Ciri yang paling menonjol dari Dataran Merdeka ini adalah tiang bendera yang menjulang sepanjang 96 meter yang merupakan tempat pertama kalinya bendera Malaysia dikibarkan.

Dataran Merdeka menghadap ke selatan
(Source: Shutterstock)

Dahulu, lapangan di area Dataran Merdeka ini merupakan lokasi yang digunakan oleh pemerintah kolonial Inggris untuk bermain kriket. Itulah mengapa terdapat gedung yang menjadi markas bagi Royal Selangor Club – sebuah klub sosial dan olahraga yang bercikal-bakal dari zaman kolonialisme Inggris – yang berlokasi di sisi barat Dataran Merdeka ini. Sayangnya, kami kurang beruntung karena Dataran Merdeka sedang ditutup untuk perawatan, sehingga kami tidak bisa menjelajah seluruh area di Dataran Merdeka ini.

Dataran Merdeka menghadap ke sisi barat dan utara.
Gedung Royal Selangor Club terlihat di tengah gambar.

Walaupun kami tidak bisa menelusuri sisi barat Dataran Merdeka, kami kembali dibuat terkesima setelah melihat pemandangan di sisi timurnya, yaitu Sultan Abdul Samad Building. Bangunan ini merupakan salah satu bangunan sejarah yang juga menjadi ikon di Kuala Lumpur. Selesai dibangun pada tahun 1897, bangunan ini dulunya dikenal sebagai Government Offices, yang berfungsi sebagai kantor bagi pemerintah kolonial Inggris. Kami menyempatkan diri berjalan mengitari gedung ini sambil mengambil foto. Area belakang gedung ini ternyata merupakan sisi sungai Gombak-Klang yang juga merupakan sisi barat Masjid Jamek.

Gedung Sultan Abdul Samad

Setelah kembali ke jalan Leboh Pasar Besar, kami memutuskan untuk menyelesaikan perjalanan kami. Walaupun masih ada beberapa area dan bangunan yang belum kami kunjungi di Old City Centre, kami mengakhiri self-guided walking tour kami setelah tanpa terasa lebih dari 3 jam berlalu. Akhirnya kami pulang ke penginapan kami dengan menggunakan kereta Light Rail Train (LRT) melalui stasiun di belakang Masjid Jamek.

Saya tidak menyangka Kuala Lumpur menyimpan banyak sekali hidden gems yang memadukan berbagai unsur budaya dari dunia timur dan barat. Satu hari berjalan kaki sebenarnya belum cukup untuk menikmati atmosfir Kota Tua di Kuala Lumpur. Jika teman-teman pembaca ingin merencanakan perjalanan di Kuala Lumpur seperti yang saya lakukan, atau mungkin ingin juga melihat sisi lain dari ibukota Malaysia ini, jangan lupa untuk rencanakan perjalananmu bersama Buddy dari TravelBuddy!

Christiaan Rudolph

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Visit Our Website

travelbuddy.id

Archives

Categories